Showing posts with label Psychology. Show all posts

Cara Memiliki Mental yang Kuat

Sumber: https://safety4sea.com/

Mental yang kuat tidak serta merta muncul begitu saja. Ada banyak praktek yang harus dijalani untuk mendapatkan hal itu. Seringkali malah praktek itu sangat mudah dilakukan, namun selalu diabaikan. Apa saja?


1.      Jangan Takut Sendirian
Sumber: https://bbc.com/
Untuk menjadi seseorang yang bermental baja, kamu tidak boleh takut melakukan hal-hal sendiri. Kamu tidak bisa mengharapkan akan selalu ada bantuan karena bantuan tidak selamanya ada. Dengan menanamkan pada diri sendiri bahwa kamu bisa mandiri, kamu sudah mulai membangun mental yang kuat.

2.      Jangan Terpuruk Pada Masa Lalu
Sumber: https://tinybuddha.com/
Masa lalu memang penting. Namun jangan sampai kamu malah terpuruk dan tidak bisa move on. Jadikan masa lalu sebagai batu loncatan untuk dirimu, bukan batu sandungan yang menenggelamkanmu.

3.      Jangan Mengharapkan Sesuatu Dari Apa Yang Telah Kamu Berikan
Sumber: https://emmanuelmensahministries.com/
Banyak sekali orang yang mengharapkan balasan atas kebaikan mereka. Tapi, hal itu sebenarnya tidak baik. Dengan kamu terus mengharap itu kamu akan kecewa sendiri karena tidak mendapat apa yang kamu harapkan. Jadi, jangan terlalu berharap untuk itu. Lakukanlah kebaikan tanpa pamrih.

4.      Jangan Berharap Akan Langsung Mendapat Hasil
Sumber: https://dnaindia.com/
Hasil usahamu tidak akan serta merta muncul. Akan ada banyak sekali proses untuk mendapatkan hasil yang kamu inginkan. Jadi, bersabarlah untuk itu.

5.      Jangan Ragu Untuk Berbagi
Sumber: https://everydayfeminism.com/
Berbagi tidak perlu berbentuk materi. Ilmu yang kamu punya pun akan sangat berguna untuk kamu bagikan. Ikhlas dalam memberi akan membuat kamu lebih bersyukur atas apa yang kamu punya. Dengan begitu, kamupun akan dengan sendirinya lebih bersabar saat menghadapi hal-hal yang tidak diinginkan.

6.      Jangan Buang Waktu Untuk Mengasihani Diri Sendiri
Sumber: https://english.elpais.com/
Kalau kamu sedang berada dalam kesulitan, jangan sekalipun mengasihani diri sendiri. Mengasihani diri sendiri adalah hal yang tidak berguna. Gunakanlah waktumu yang berharga itu untuk memperbaiki keadaan.

7.      Jangan Buang Tenaga Pada Sesuatu Yang Tak Bisa Kamu Kendalikan
Sumber: https://dnaindia.com/
Kamu tahu ada yang salah, namun, kalau penyebabnya adalah hal-hal yang tidak bisa kamu kendalikan, maka jangan paksakan diri untuk memperbaikinya.

8.      Jangan Biarkan Orang Lain Mempengaruhi Emosimu
Sumber: https://headheartbrain.com/
Emosimu adalah milikmu. Jangan mudah terbawa suasana sampai-sampai kamu seakan terhipnotis pada orang lain yang akhirnya malah membuatmu menjadi bukan dirimu. Atur emosimu, jangan sampai kamu disetir oleh orang lain.

9.      Jangan Iri Dengan Kesuksesan Orang Lain
Sumber: https://isha.sadhguru.org/
Kesuksesan orang lain ada bukan untuk menjadi objek yang harus kamu irikan. Kesuksesan orang lain ada agar kamu bisa memecut dirimu sendiri agar bisa sukses seperti mereka. Jangan biarkan dirimu iri pada kesuksesan tersebut yang akhirnya malah membuatmu lupa untuk membuat dirimu sendiri sukses.

10.  Jangan Lari Dari Tanggung Jawab 
Sumber: https://redboxfire.co.uk/
Lari dari tanggung jawab tidak akan membuat masalahmu berkurang. Yang ada, masalah lain akan bermunculan hanya karena kamu tidak melakukan tanggung jawab yang sebelumnya.

11.  Jangan Mudah Menyerah
Sumber: https://pijarpsikologi.org/
Masalah akan selalu ada. Rintangan dan cobaan adalah penghias hidup. Oleh karena itu, jangan sampai kamu menyerah pada keadaan yang sebenarnya bisa kamu perbaiki. Jangan jadikan masalah, rintangan, dan cobaan sebagai alasan kamu untuk berhenti melakukan sebuah hal yang positif.

12.  Jangan Takut Mengambil Keputusan
Sumber: https://jepsonholt.com/
Setiap keputusan akan selalu ada efek sampingnya. Tidak ada keputusan yang sempurna. Jadi, janganlah kamu takut untuk memilih salah satunya.

Kenali Gangguan Pre Menstruasi Syndrome (PMS)

Bagi wanita, menstruasi memang sudah menjadi kodrat dan teman setia setiap bulan. Sayangnya, kedatangan "tamu" tersebut seringkali mengganggu dan menimbulkan rasa sakit. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa sekitar 85% wanita mengalami gangguan fisik dan psikis menjelang, saat, atau pun sesudah menstruasi. Biasanya gangguan tersebut berlangsung antara satu minggu sebelum sesudah mentruasi dan Psikiater dari Unika Atma Jaya Dharmady Agus mengatakan gangguan fisik yang biasa dialami adalah rasa pusing, mual, pembengkakan payudara, perut kembung, sampai pingsan. Sedangkan gangguan psikis mulai dari ledakan emosi dalam bentuk amarah, sensitifvitas yang tinggi, sedih, merasa sunyi, hingga depresi dan keinginan bunuh diri arah Gangguan psikis atau mental selama PMS dalam istilah kedokteran menurut Dharmady disebut Premenstrual Dysphoric Disorder atau biasa disingkat PDD. Berbagai penelitian menunjukkan cukup banyak perempuan yang mengalami gangguan PDD. Penekanannya lebih pada perubahan emosi, mulai dari yang ringan hingga berat. Mulai dari perasaan cepat marah hingga keinginan menyakiti diri sendiri, orang lain, dan bunuh diri.

Untuk mengatasi PDD, perhatian dan dukungan keluarga sangat diperlukan. Jika tingkat PDD semakin erat, tidak bisa tidak, diri sendiri mau pun keluarga sebaiknya mencari pertolongan ke psikiater agar bisa dilakukan terapi. Di luar negeri, terang Dharmady, kesadaran untuk mencari pertolongan sudah cukup tinggi. Itu sebabnya, tidak sulit mencari kelompok-kelompok yang menjalani terapi. Selama ini, metode terapi kelompok terbukti efektif, karena masing-masing penderita PDD bisa saling menguatkan dan melakukan kontrol. Mereka juga bisa lebih mengenali dan melakukan antisipasi ketika gejala PDD muncul Di Indonesia, kesadaran seperti itu masih sangat kecil. Biasanya PMS dianggap sebagai gejala umum, abaikan saja, toh bisa sembuh sendiri setelah masa itu lewat. Padahal, PDD jelas akan memengaruhi kehidupan sehari-hari, menurunkan kualitas hidup dan produktivitas.

Para peneliti mengungkapkan bahwa risiko PMS justru bisa meningkat setelah perkawinan. Perempuan yang sudah menikah lebih banyak mengalami PMS dibanding perempuan lajang. Sebuah jurnal kedokteran menegaskan, peningkatan PMS terjadi pada usia 30 hingga 45 tahun. Setelah itu biasanya secara perlahan terjadi penurunan risiko. Dr Guy E Abraham, ahli kandungan dan kebidanan dari Fakultas Kedokteran UCLA, AS, lewat situs menstruasi. com membagi PMS dalam empat tipe. Bila sudah mengetahui di mana tipe diri sendiri berada, maka saat muncul gejala PMS bisa diminimalisasi. Berikut empat tipe yang dimaksud: Tipe A (Anxiety) Ditandai dengan gejala cemas, sensitif, saraf tegang, dan perasaan labil. Beberapa wanita bahkan mengalami depresi ringan sampai sedang. Saran: Konsumsi makanan berserat, jangan merokok dan batasi asupan kafein dari kopi, teh, dan cokelat.

Tipe C (Craving) 
Muncul gejala pembengkakan pada perut (kembung) nyeri pada buah dada, tangan, kaki, serta terjadi peningkatan berat badan. Biasanya terjadi karena asupan garam dan gula yang tinggi pada penderita. Gejala pada tipe ini dapat juga dirasakan bersamaan dengan tipe-tipe lain. Saran: Kurangi asupan garam dan gula. Juga jumlah cairan yang masuk ke dalam tubuh. 

Tipe D (Depression) 
Biasanya mengalami rasa lapar, ingin mengonsumsi makanan yang manis (cokelat) dan karbohidrat sederhana. Biasanya setelah menyantap dalam jumlah banyak muncul gejala hipoglikemia seperti kelelahan, jantung berdebar, pusing, terkadang sampai pingsan. Gejala ini muncul karena peningkatan hormon insulin Saran: Perbanyak konsumsi sayuran hijau, biji-bijian gandum, dan kacang-kacangan. 

Tipe H (Hyperhydration) 
Muncul keinginan menangis, lemah, gangguan tidur pelupa, bingung, sulit berkata-kata. Bahkan muncul rasa ingin bunuh diri atau mencoba bunuh diri Biasanya tipe ini berlangsung bersamaan dengan tipe A. Hanya 3 % penderita yang murni mengalami tipe D. Saran: tingkatkan konsumsi vitamin B6 dan magnesium.

Apa saja gejala PDD? 
Psikiater Dharmady Agus menyebutkan: 
1. Depresi, rasa putus asa, pikiran-pikiran yang mencela diri sendiri. 
2. Tegang, gelisah, kadang-kadang justru muncul perasaan yang sangat gembira. 
3. Labilitas afek yang jelas (perasaan tiba-tiba sedih, menangis sangat sensitif terhadap penolakan). 
4. Perasaan marah yang menetap, iritabilitas, dan peningkatan konflik interpersonal. 
5. Penurunan minat dalam aktivitas sehari-hari (sekolah, pekerjaan, teman, dan hobi). 
6. Secara subyektif merasa sulit berkonsentrasi. 
7. Letargi, mudah lelah, kurang energi yang jelas. 
8. Perubahan nafsu makan (meningkat atau menurun). 
9. Insomnia atau hipersomnia. 
10. Secara subyektif merasa gembira berlebihan. 
11. Gejala-gejala fisik lain, seperti: sakit kepala, nyeri sendi atau otot, payudara membengkak, dan berat badan meningkat. 

Apa yang harus dilakukan? 
1. Psikoterapi Efektif untuk menghilangkan gejala-gejala PDD. Terapi suportif dan terapi kelompok dapat digunakan. Penderita akan merasa lebih baik karena mendapat dukungan kelompok, lebih mengerti tentang gejala-gejala yang terjadi, tahu bahwa dirinya tida sendirian, mengurangi rasa bersalah, membantu menghindari stres, dan memperbaiki kepercayaan diri . Keberhasilan terapi ini mencapai 40-50 % , sekaligus membuktikan besarnya peran psikologis dalam kasus-kasus PDD 
2. Latihan Fisik Keluhan PDD jarang ditemukan pada wanita yang aktif berolahraga. Olahraga dikaitkan dengan penurunan stres. 
3. Diet Hindari kopi dan rokok. Kurangi juga kadar gula. Minum susu sangat dianjurkan. Beberapa penelitian menyatakan, Vitamin A, E, B6, Ca carbonat, Mg, dan Zn dapat mempebaiki PDD. 
4. Terapi Farmakologik Secara umum, terapi farmakologik hanya dapat diberikan di bawah pengawasan seorang dokter. Misalnya dalam bentuk pemberian obat, penyeimbangan hormon, terapi cahaya, pembedahan, dan sebagainya.

Apa penyebab PDD?
Berbagai teori telah diajukan untuk menerangkan PDD. Banyaknya faktor yang diduga memengaruhi adalah:
Psikososial Menurut teori psikoanalisis , gejala - gejala PDD merupakan manifestasi dari konflik peran sebagai wanita. Haid diartikan sebagai suatu stimulus yang mengancam konflik yang telah direpresi. Secara tidak sadar, penderita PDD menggunakan fungsi haidnya untuk menyatakan ketegangan sebagai akibat situasi lingkungan yang menekan, kesukaran dalam hubungan antarpribadi, atau oleh sikapnya sendiri terhadap kewanitaannya hasil penelitian di Malang menunjukkan penderita PDD merupakan orang yang suka merengek, suka mengeluh, mudah marah, pasif, keterpaksaan untuk menerima yang berat karena tak kuasa atau nolak

Genetik Sekitar 70 % anak wanita dengan ibu penderita PDD juga menderita PDD. Pada kelompok kontrol (ibu yang tidak menderita PDD) didapat angka sekitar 37%. Biologik Berbagai teori neuroendokrin telah dilaporkan sebagai penyebab PDD. Itu berarti, antara lain keseimbangan hormon esterogen dan prosgesteron berperan besar. Juga hormon tiroid, endorfin, prostaglandin, dan lain-lain. Duuuh seram ya? Apalagi kata Dharmady dan berbagai penelitian, jika tidak diobati, PDD bisa berkembang kronik. Penderitanya bisa menjadi agresif (mudah menyerang orang lain) atau justru sebaliknya ingin sekali bunuh diri.

Tips Mengatasi Anak yang Kerap Bertengkar



Psikolog dan konsultan pendidikan Proxima Edukreasi Ayu Windiyaningrum Mpsi memberikan tips mengatasi anak-anak yang kerap bertengkar :

1. Lakukan aktivitas bersama : Misalnya membuat gambar atau olahraga.
Aktivitas bersama akan meningkatkan waktu kebersamaan, sehingga diharapkan setiap anak dapat mengerti kelebihan dan kekurangan saudaranya masing-masing.

2. Bermain peran : Minta anak anak untuk berperan terbalik sebagai saudaranya yang lebih tua atau lebih muda. Kegiatan ini tentu baru bisa dilakukan pada anak usia 8-12 tahun. Minta mereka untuk saling bertukar peran selama satu jam. Cara ini bisa meningkatkan pemahaman satu sama lain.

3. Hindari perbandingan : Tanpa sadar kadang orang tua membandingkan anak-anaknya. "Kayak kakak dong, masak kamu begitu aja gak bisa."  atau sebaliknya.Anak-anak tentunya tidak merasa nyaman ketika diperbandingkan. Membandingakn satu sama lain bisa mempengaruhi tingkat kepercayaan diri dan memici keengkelan serta pertengkaran.

4. Diskusi terbuka : Ajak anak berbicara secara terbuka mengenai hal hal yang tidak di sukai dari saudaranya dan bagaimana ia ingin diperlakukan. Orangtua berada sebagai penengah, harus bersikap netral dan adil.

Tips Mencegah Pertengkaran



Jennifer Shroff Pendley PhD dalam situs kidshealth.org memberikan beberapa tips untuk mencegah pertengkaran :

  1. Pastikan anak-anak tetap memiliki waktu dan ruang untuk bermain dan melakukan hal sendiri-sendiri tanpa harus berbagi.
  2. Proaktif memberikan kegiatan sesuai dengan minat masing-masing anak. Jalan-jalan, membaca buku, dll.
  3. Pastikan bahwa mereka tahu bahwa mereka dicintai, sehingga mereka merasa lebih aman.
  4. Lakukan rutin kegiatan bersenang-senang bersama seluruh anggota keluarga. Entah itu menonton bersama, piknik sederhana, bermain lempar bola, dll. Kegiatan keluarga yang menyenangkan akan membantu mengurangi konflik.
  5. Jika anak-anak bertengkar memperebutkan mainan, ajari mereka untuk membuat dan menyepakati jadwal.

Hindari Kata "Jangan"


Kebiasaan berkata "Jangan" pada anak dapat membuat psikologis anak menjadi merasa tertekan dan terkekang. Sehingga makin besar peluang untuk anak bertindak sebaliknya dari larangan tersebut. Untuk itu kita perlu mengeluarkan kata - kata yang tepat untuk anak - anak kita.

Berikut adalah contoh kata - kata pengganti kata " Jangan " : 

1. Jangan berebut = Mainannya gantian ya

2. Jangan berteriak = Ibu dapat mendengarmu sayang, kecilkan suaramu

3. Jangan memukul teman = Sayangi temanmu

4. Jangan lari - larian di dalam rumah = Kalau ingin lari - larian kita main diluar saja

5. Jangan buang sampah sembarangan = Buang sampah pada tempatnya ya nak

6. Jangan berkelahi = Main sama sama ya

7. Jangan melawan ibu = Coba dengarkan ibu

8. Jangan berantakin mainannya = Usai bermain, kembalikan main ketempatnya

9. Jangan merusak mainan = Ayo gunakan mainannya dengan benar

10. Jangan malas = Ayo cobalah lebih rajin

11. Jangan loncat - loncat di sofa = Sofa itu untuk duduk kalau mau loncat loncat diluar saja ya

12. Jangan melempar mainan = Ayo main dengan benar ya

13. Jangan main jauh - jauh = Main dekat rumah saja ya

14. Jangan dekat - dekat api = Menjauhlah dari api

15. Jangan coret - coret dinding = Menggambar di kertas saja ya

16. Jangan cemberut = Ayo senyum

17. Jangan ngambek = Coba cerita apa yang adik mau

18. Jangan lambat = Ayo bergegas nanti terlambat lho

19. Jangan menginjak tanaman =  Jalannya lewat sini saja ya

Ubahlah kebiasaan cara bicara bunda sekarang, semoga artikel ini dapat membuka pemikiran bunda sekalian! 

- Women's Journal

Teknik Mengajar Guru Masa Kini



1. Kejujuran
Pengajar wajib menanamkan sikap berani untuk menyatakan ketidaktahuan pada para siswanya.

2. Berkomentar kepada pertanyaan siswa
Pengajar memberikan komentar pada jawaban dari tiap – tiap siswa.

3. Metode Tanya Jawab
Teknik bertanya dengan tujuan menarik perhatian siswa serta membuatnya siap menerima apa yang disampaikan pengajar.

4. Fokus dan Berpoin
Mengajar berdasarkan rumusan atau poin poin sehingga membantu siswa agar tidak mudah lupa

5. Self Reflection
Mempersilahkan siswa menjawab pertanyaan yang dilontarkan siswa tersebut untuk membantunya mengasah pola pikir.

6. Alasan dan Argumentasi
Menjawab alasan dari suatu materi yang dianggap sulit agar siswa semakin paham dan ada kemauan untuk mempelajari hal tersebut.

7. Gambar dan Teknologi Kelompok
Mengajar menggunakan bantuan media gambar atau tulisan.

8. Bahasa Tubuh
Menggunakan gerakan gerakan tubuh supaya penyampaian lebih jelas, menarik perhatian siswa serta mudah diingat.

9. Mengajarkan Motivasi
Mengajar sambil meningkatkan gairah belajar dan rasa ingin tahu siswa.

10. Analogi dan Studi Kasus
Mengajar dengan memberikan contoh studi kasus berdasarkan hal hal yang ada disekitar.

11. Bercerita
Mengajar dengan cara seperti orang bercerita sehingga siswa tertarik dan mudah memahami.

12. Diskusi dan Umpan balik
Memberikan jawaban dengan membuat contoh yang mudah dipahami oleh siswa.

13. Scanning dan Leveling
Mengajar dengan memahami dan menyesuaikan dengan tingkat kecerdasan tiap – tiap siswa.

14. Pembelajaran Terapan
Menggunakan metode praktek yang dicontohnya oleh guru dan kemudian dilakukan sendiri oleh siswa.

15. Interaksi Aktif
Mengajar sembari aktif berinteraktif dengan siswa seperti melakukan kontak mata, mengatur nada bicara dan lain – lain.

Penulis : Muhamad Fadhol

Cara Cerdas Menegur Anak Usia Dini


Menegur anak diusia dini tentu berbeda dengan menegur orang dewasa, karena karakter dan psikologi anak terbentuk dan dipengaruhi oleh kejadian dilingkungan sekitarnya. Berikut adalah cara cerdas bagaimana menegur anak diusia dini.

1. Tetap sabar
Menghadapi anak - anak memang tidak mudah, apalagi jika ia sulit diatur. Oleh karena itu diperlukan kesabaran saat menegurnya.

2. Bicara Empat mata
Saat menegur lakukan saat tidak ada orang lain. Tujuannya agar anak tidak merasa malu saat dinasehati.

3. Tidak berkata kasar
Hindari mengucapkan kata - kata kasar. Karena hal tersebut bisa ditiru oleh anak tersebut.

4. Kendalikan Emosi
Jangan sampai termakan emosi saat menegur anak. Hal itu berpotensi membuat anda melakukan hal - hal yang tidak di inginkan terhadap anak.

5. Tidak membentak
Usahakan agar tidak membentak anak. Jika anda melakukannya anak malah akan merasa takut kepada Anda.

6. Tidak membandingkan 
Jangan membandingkan anak dengan anak lain ketika menasihatinya. Tujuannya agar anak tersebut tidak sakit hati.

7. Hindari kekerasan
Jangan melakukan kekerasan saat anak melakukan kesalahan, meskipun cukup ampuh dikhawatirkan menyebabkan trauma pada anak.

8. Tidak mengancam
Jangan ancam anak supaya tidak mengulangi kesalahannya, melainkan seri peringatan dengan halus kepadanya.

9. Utamakan diskusi
Lakukan teguran seperti melakukan diskusi. Berikan juga kesempatan pada anak mengutarakan pendapatnya.

10. Buat perjanjian
Buat perjanjian dengan anak agar tidak mengulangi perbuatannya, misal dengan mengurangi uang jajan jika ia mengulangi lagi.

11. Beri pengetian
Berikan penjelasan kepada anak Anda mengapa ia tidak boleh melakukan kesalahan itu.

12. Memberi contoh
memberikan contoh kepada anak tentang apa yang seharusnya dilakukan untuk memperbaiki kesalahannya.

Sumber : www.psikoma.com


Sikap - Sikap Manipulatif dalam Pernikahan


Anda mungkin selama ini sudah merasa menjadi seorang istri yang baik dan menjadi penolong. Tapi apakah pemikiran itu sesuai dengan kenyataan yang ada? Tanpa anda sadari Anda sebenarnya melakukan hal-hal manipulatif seperti berikut ini.

1. Mengeluh dan Mengomel
Seperti keran yang bocor bukan tidak mungkin kita selama ini telah memanipulasi suami dengan terus menerus mengeluh dan mengomel untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, entah itu uang belanja ekstra, barang tertentu, dan sebagainya.

2. Membuat suami Anda bungkam
Tanpa sadar mungkin Anda pernah menginterupsinya saat berbicara dan memintanya diam. Silahkan berbicara mengungkapkan apa yang Anda pikirkan, tapi jangan lupakan bahwa suami juga memiliki hak untuk berbicara.

3. Menyalahkannya
Jangan menyalahkan pasangan Anda atas ketidak bahagiaan, kemarahan dan kesedihan Anda. Anda mungkin berkata : Andai saja penghasilanmu lebih besar, dirumah lebih sering, punya pekerjaan yang lebih bergensi, lebih sering menemani anak, dan andai-andai yang lain.

4. Menganggapnya Peramal
Dalam diam, Anda juga bisa memanipulasi. Ini terjadi saat Anda berharap Ia layaknya seorang peramal yang mampu membaca pikiran dan gerak tubuh Anda. Ketika ditanya kenapa olehnya, Anda hanya diam dan mengeluarkan napas panjang atau membulatkan bibir. Anda menjawabpun, paling hanya singkat yang keluar dari mulut dengan ketus : "tidak apa-apa" "terserah" dsb.

5. Membuat Suara Gaduh
Pernahkah Anda jengkel melihat pasangan Anda diam saja padahal Anda sedang sibuk dan memerlukan bantuannya? Apakah Anda sudah meminta tolong dengan baik-baik untuk membantu Anda? Atau yang Anda lakukan selama ini hanya menaruh piring keras-keras, atau menyodokan sapu ke kakinya agar sadar bahwa Anda butuh bantuannya? Ini juga merupakan sikap manipulasi.

6. Mengancamnya
"Jika kamu tidak bisa membayar tagihan bulan ini, malam ini kamu tidur di sofa saja". Jangan pernah mengancam pasanganmu, terutama masalah kewajiban dan keintiman rumah tangga.

7. Membuatnya merasa bersalah dan kurang
"Aku kusut seperti ini karena kamu tidak pernah memberikan cukup uang untuk perawatan" kata-kata yang membuat pasangan Anda merasa bersalah atas apa yang kita rasakan, merasa kurang dan tidak menghargai apa yang sudah ia lakukan untuk keluarga juga adalah sikap manipulatif.

Cara Melupakan dan Menghadapi Masa Lalu


Kita semua pasti memiliki masa lalu, entah itu masa lalu yang baik, ataupun buruk. Biasanya kita ingin mengenang masa lalu yang baik dan melupakan masa lalu yang buruk. Namun faktanya, kita lebih mengingat masa lalu yang buruk, bukan karena kita tidak mau melupakannya tapi karena kejadian di masa lalu itu membekas, mungkin tidak hanya membekas di fisik kita namun membekas di hati kita, khususnya sebagai wanita. 

Berikut kami akan membahas cara bagaimana melupakan masa lalu.

1. Menerimanya
Masa lalu sudah tidak dapat diubah, seperti kata pepatah nasi sudah menjadi bubur. Daripada menyesali yang sudah terjadi, lebih baik menerimanya dan mengambil sisi positif dari apa yang sudah terjadi. Jika Anda kesulitan mencari sisi positif dari masa lalu Anda, ambillah waktu tenang untuk merefleksikan diri dan mensyukuri bahwa Anda telah dapat melewati waktu sulit.

2. Bersyukur
Seperti yang telah saya katakan diawal, mungkin banyak hal di masa lalu yang sebenarnya jauh lebih indah untuk dikenang, namun kita terfokus pada hal buruk yang terjadi. Bahkan ingatan buruk dimasa lalu dapat menghapus kenangan indah dan membebani pikiran kita. Bersyukur adalah kunci agar pikiran Anda tidak terus-menerus terpaku pada pengalaman pahit di masa lalu, banyak hal yang dapat disyukuri jika kita menelusuri hidup dengan lebih detail.

3. Belajar
Semua terasa lebih ringan apabila kita bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian dimasa lalu yang pernah terjadi, apakah itu hal baik maupun hal buruk. Masa lalu adalah sekolah kehidupan bagi kita agar dimasa yang akan datang kita tidak mengulangi kesalahan yang sama bahkan dapat bersikap lebih dewasa jika mengalami masalah yang serupa. Dengan demikian masa lalu kita tidak Iagi menjadi sesuatu yang membelenggu, tapi justru membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik.

4. Memberi Pengampunan
Masa lalu yang buruk biasanya akan menimbulkan amarah bahkan dendam kepada penyebab masa lalu yang buruk itu. Memberi pengampunan tidak berarti hanya kepada orang lain yang menyakiti kita, tapi juga memberikan pengampunan kepada diri sendiri yang mungkin selama ini kita tidak dapat memaafkan diri sendiri sebagai penyebab dari pengalaman buruk dimasa lalu. Setelah mengampuni, kita akan merasa lebih baik. Sesungguhnya jika kita terus menyimpan amarah dan dendam sebenarnya diri kita sendiri yang merugi.

5. Berbagi beban
Berbagi beban disini tidak berarti kita menyusahkan orang lain. Carilah orang yang dapat Anda percaya dan yang tidak merasa keberatan untuk mencurahkan isi hati Anda kepadanya. Berbagi beban atau Sharing ini lebih dibutuhkan oleh wanita karena lebih banyak menggunakan feeling dalam berinteraksi. Sharing tidak berarti harus dengan orang lain, jika Anda tidak terbiasa mengutarakan hal pribadi ke orang lain Anda tentu dapat menuangkan curahan hati Anda ke dalam sebuah Jurnal atau Buku Harian. Untuk sharing ini sangat disarankan untuk mencari tempat berbagi beban kepada orang yang sesama jenis. Jika Anda wanita silahkan sharing ke wanita juga karena kurang lebih memiliki cara pikir yang lebih mirip dibandingkan lawan jenis, karena sama – sama lebih menggunakan feeling dalam berinteraksi. Selain itu dapat menghindari kejadian yang tidak diinginkan seperti CinLok, CLBK atau perselingkuhan yang biasa dihadapi oleh pasangan yang sedang dilanda masalah.

6. Buang barang kenangan masa lalu
Anda akan lebih mudah melupakan masa lalu apabila barang kenangan masa lalu telah disingkirkan. Jika memang Anda tidak tega untuk membuang barang tersebut, Anda dapat memberikannya kepada orang – orang yang lebih membutuhkannya, atau bahkan menjualnya ke pasar loak. Dengan kepergian barang kenangan masa lalu tersebut, Anda akan lebih mudah melupakannya karena sudah tidak melihat barang tersebut. Tips ini sangat manjur dilakukan banyak orang dan terbukti efektif.

7. Hadapi masa lalu
Bagaimanapun masa lalu kita adalah sesuatu yang harus kita hadapi sebelum dapat melupakannya, selama kita belum berani menghadapi masa lalu, kita akan selalu dihantui oleh masa lalu karena bagaimanapun masa lalu merupakan bagian dalam hidup kita. Sekadar memendam rasa sakit, benci, atau takut, tidak akan menyelesaikan masalah. Hadapilah diri sendiri terimalah kenyataan kita tidak bisa mengubah hal yang sudah terjadi, tapi saat kita mau berdamai dengan diri sendiri atau orang lain, maka kita sudah bisa dikatakan menang!

Cara Menghilangkan dan Mengobati Trauma pada Anak


Trauma adalah “kerusakan” jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik yang dapat mengubah respon seseorang terhadap stres masa depan.
Kebanyakan anak lebih rentan mengalami trauma karena secara psikologis mereka belum cukup siap menghadapi suatu peristiwa seperti halnya orang dewasa. Sebagai orang tua kita perlu peka terhadap perubahan yang terjadi pada anak.

Berikut beberapa cara yang dapat diterapkan untuk memulihkan trauma pada anak :

1. Berikan keamanan dan kenyamanan
Mungkin pertengkaran Anda dengan pasangan dapat menjadi pemicu anak mengalami trauma. Maka hindarilah bertengkar dengan pasangan Anda didepan anak Anda. Mungkin Anda sendiri juga sedang merasa stres tapi jangan sampai Anda ikut membentak anak, apalagi saat ia sedang ketakutan.
Anak memerlukan kasih sayang dan pelukan hangat saat dia merasa ketakutan, sehingga ia mendapat rasa aman dan nyaman. Dengan begitu ia dapat merasa yakin bahwa semua akan baik-baik saja.

2. Biarkan Menangis
Menangis merupakan salah satu respon terhadap trauma yang paling baik. Kenapa menangis merupakan respon yang baik? Karena jika orang mengalami trauma dan ia diam saja, akan lebih sulit diditeksi oleh orang lain dan cenderung menyimpan stresnya sendiri di dalam hati, sehingga tidak ada orang yang dapat mengetahui dan membantunya melewati masa-masa sulit. Menangis merupakan cara anak untuk menyalurkan emosi dan gejolak hati mereka. Biarkan ia menangis dan tetaplah berada disampingnya, sehingga Anda dapat memberikan pelukan dan menenangi dia saat anak Anda membutuhkan Anda.

3. Ajak Bicara
Tidak semua anak pandai mengungkapkan perasaanya. Beberapa dari mereka tidak mau bahkan tidak bisa menceritakan masalahnya kepada orang tuanya. Karena itu, Anda harus mulai berpikir seperti anak muda lagi dan mencoba memahami posisi dan perasaannya.
Saat suasananya tepat, ajak anak Anda yang mungkin sedang mengalami trauma tersebut untuk berbicara. Harus sabar dan tidak memaksa, karena butuh waktu untuk mendapatkan kepercayaan anak untuk bercerita dengan orang tuanya. Minta anak Anda untuk menceritakan perasaan apa yang sedang ia rasakan. Usahakan Anda tetap mendengarkan ceritanya hingga selesai tanpa memotong pembicaraanya. Simpan poin – poin dimana Anda tidak setuju dengan pernyataan anak Anda.
Setelah anak Anda selesai bicara, barulah Anda berikan pendapat dengan penuh kasih. Buka cara pikir anak Anda agar dapat menerima kenyataan konflik yang membuatnya trauma. Berikan pandangan anda mengenai poin –poin yang Anda tidak setuju dengan kata – kata yang bijak, jangan seperti menghakimi anak Anda. Jangan sampai menimbulkan percikan emosi terhadap anak Anda.

4. Jangan membohongi Anak
Ditinggal dengan orang yang anak Anda kasihi juga memungkinkan anak Anda merasa trauma. Pada saat seperti ini, mungkin kita berpikir untuk membohonginya adalah solusi termudah yang dapat kita temukan saat itu. Mungkin kebohongan tersebut akan berhasil tapi sebenarnya kebohongan hanya masalah waktu. Membohongi anak seperti itu justru akan membuat anak merasa lebih kecewa saat mengetahui dirinya dibohongi. Lebih baik jujur, beritahukan kondisi sebenarnya dan biarkan anak menghadapi luka sementara, dan menghadapinya agar mentalnya lebih kuat dari hari ke hari.

5. Luangkan waktu
Sesibuk apapun Anda, luangkan waktu untuk mengajaknya mengobrol atau menemaninya. Agar anak menyadari bahwa ia tidak sendirian dalam menghadapi segala persoalan sehingga membuat anak merasa lebih tenang, khususnya pada saat ia mengalami stres karena suatu peristiwa yang traumatik.

6. Jangan menyalahkannya
Tingkat ketenangan seseorang dalam menghadapi suatu peristiwa memang berbeda-beda. Disinilah anda perlu lebih memahami kondisi psikologis anak yang pada umumnya belum sekuat dan setegar orang dewasa. Karena itu, daripada menghakimi anak atas apa yang dia alami dan menyudutkan atau menyalahkannya, cobalah untuk memahami perasaannya. Sadarkan anak Anda bahwa kesalahan dapat diperbaiki, namun harus dihadapi dan menanggung resiko yang ada, tapi jangan lupa katakan bahwa ia tidak sendirian menanggung resiko tersebut, Anda siap menemaninya kapanpun dia membutuhkan support. Dengan begini anakpun dapat lebih bertanggung jawab dan tidak mengulangi kesalahannya.

7. Menyenangkannya

Cara memulihkan trauma pada anak salah satunya dengan cara menyenangkannya. Para ahli percaya bahwa trauma pada anak dapat lebih cepat pulih saat ia mendapatkan kesenangan, kesenangan tidak dapat dipandang dengan cara memanjakan anak, namun menyenangkan anak dengan memberikannya waktu dan perhatian khusus, atau membuatnya merasa spesial. Hal ini dinilai mampu memancing rasa senang anak dan berangsur – angsur menghilangkan trauma pada anak.