Showing posts with label Self Introspection. Show all posts

Things You Can Control



Halo girls.. pernah gak sih kamu merasa ada sesuatu yang salah dari diri kamu? Tiap orang pasti punya halangan dalam mencapai hal yang diinginkan supaya diri kamu menjadi maju. Salah satu solusinya adalah mengontrolnya. Beberapa hal tentu saja tidak dapat kamu kontrol seperti bencana, takdir, dll. tetapi ada yang bisa kamu kendalikan di dalam dirimu agar dapat memperbaiki dirimu. Lalu hal apa saja yang dapat kamu kontrol di dalam hidupmu? Yuk kita bahas.

1.      What you eat
Tentu saja kamu bisa mengontrol apa yang kamu makan setiap harinya. Ketika samu merasa ingin makan dan ngemil, nafsu makanmu itu tidak harus selalu dituruti loh girls. Tau dong akibatnya kalo kamu sering ngemil? Gak pengen dong kamu jadi buncit.

2.      What you talk about
Kamu bisa mengontrol apa yang kamu bicarakan dengan orang-orang disekitarmu. Tidak semua topik dapat kamu bicarakan di depan orang lain loh.. yang paling penting, harus berbicara sesuai fakta ya girls.

3.      What you think about
Kamu harus bisa mengontrol pikiran kamu terutama dengan hal-hal negatif. Yang harus kamu ingat adalah pikiran bisa menjadi sahabat yang baik,sekaligus musuh yang paling jahat untuk dirimu sendiri.

4.      What you believe
Apa yang kamu percaya dapat kamu kontrol. Banyak hal yang dapat kamu percaya namun tidak semua hal itu baik untuk kedepannya.

5.      Who hang with you
Lingkungan sekitar mu sangat dapat mempengaruhi hidupmu salah satunya adalah pertemanan. Kamu bisa memilih dengan siapa kamu akan bergaul agar kamu dapat menentukan jalan hidupmu kedepannya.

6.      How open-minded you are
Kamu harus bisa mengetahui seberapa open mindednya kamu. Orang yang memiliki pemikiran yang terbuka lebih mudah memperbarui diri sendiri.

7.      How seriously you take life
Tidak semua hal harus dibawa serius, kadang kita perlu juga untuk “santai” di dalam hidup tapi ingat, kamu harus kontrol agar tetap serius di dalam hidup mu jangan kebablasan dan terlalu santai, okay girls?

8.      How personally you take things
Sebagai manusia, kita sudah sepatutnya bergantung dengan orang lain untuk mendukung apa yang kita lakukan. Kamu bisa mengontrolnya seperti berhenti mengkhawatirkan apa yang orang lain pikirkan dan kamu harus bisa menempatkan dirimu diposisi orang lain.

9.      How kind you are
Kebaikan tidak ada batasnya. Kamu bisa kontrol kebaikan yang kamu lakukan setiap harinya. Jangan lupa untuk selalu berbuat baik ya girls!

10.  Your priorities
Ini adalah hal yang kadang terasa sulit untuk sebagian orang. Menentukan suatu prioritas kadang terasa. Penentuan skala prioritas dapat menentukan suatu kesuksesan loh.. Jadi kamu harus kontrol dan jangan sampai sulitnya menentukan prioritas membuat kemunduran dalam hidupmu ya!

11.  Your effort
Kamu bisa mengontrol usaha-usaha apa yang akan kamu lakukan untuk kemajuan hidupmu kedepannya untuk memperbaiki hidupmu. Jika kamu gagal, kamu harus bisa menentukan usaha kedepannya agar kamu dapat berkembang dan jangan sampai terulang kembali.

12.  Your happiness
Ketika ke 11 poin diatas sudah dapat kamu kontrol, tentu saja kamu akan dapat mengontrol kebahagiaanmu karena apa yang seharusnya kamu khawatirkan sudah teratasi karena kamu telah bisa mengontrolnya.

Jangan lupa untuk mengontrol dirimu ya girls! Supaya kamu bisa memperbaiki hidupmu untuk kedepannya.

Sikap - Sikap Manipulatif dalam Pernikahan


Anda mungkin selama ini sudah merasa menjadi seorang istri yang baik dan menjadi penolong. Tapi apakah pemikiran itu sesuai dengan kenyataan yang ada? Tanpa anda sadari Anda sebenarnya melakukan hal-hal manipulatif seperti berikut ini.

1. Mengeluh dan Mengomel
Seperti keran yang bocor bukan tidak mungkin kita selama ini telah memanipulasi suami dengan terus menerus mengeluh dan mengomel untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, entah itu uang belanja ekstra, barang tertentu, dan sebagainya.

2. Membuat suami Anda bungkam
Tanpa sadar mungkin Anda pernah menginterupsinya saat berbicara dan memintanya diam. Silahkan berbicara mengungkapkan apa yang Anda pikirkan, tapi jangan lupakan bahwa suami juga memiliki hak untuk berbicara.

3. Menyalahkannya
Jangan menyalahkan pasangan Anda atas ketidak bahagiaan, kemarahan dan kesedihan Anda. Anda mungkin berkata : Andai saja penghasilanmu lebih besar, dirumah lebih sering, punya pekerjaan yang lebih bergensi, lebih sering menemani anak, dan andai-andai yang lain.

4. Menganggapnya Peramal
Dalam diam, Anda juga bisa memanipulasi. Ini terjadi saat Anda berharap Ia layaknya seorang peramal yang mampu membaca pikiran dan gerak tubuh Anda. Ketika ditanya kenapa olehnya, Anda hanya diam dan mengeluarkan napas panjang atau membulatkan bibir. Anda menjawabpun, paling hanya singkat yang keluar dari mulut dengan ketus : "tidak apa-apa" "terserah" dsb.

5. Membuat Suara Gaduh
Pernahkah Anda jengkel melihat pasangan Anda diam saja padahal Anda sedang sibuk dan memerlukan bantuannya? Apakah Anda sudah meminta tolong dengan baik-baik untuk membantu Anda? Atau yang Anda lakukan selama ini hanya menaruh piring keras-keras, atau menyodokan sapu ke kakinya agar sadar bahwa Anda butuh bantuannya? Ini juga merupakan sikap manipulasi.

6. Mengancamnya
"Jika kamu tidak bisa membayar tagihan bulan ini, malam ini kamu tidur di sofa saja". Jangan pernah mengancam pasanganmu, terutama masalah kewajiban dan keintiman rumah tangga.

7. Membuatnya merasa bersalah dan kurang
"Aku kusut seperti ini karena kamu tidak pernah memberikan cukup uang untuk perawatan" kata-kata yang membuat pasangan Anda merasa bersalah atas apa yang kita rasakan, merasa kurang dan tidak menghargai apa yang sudah ia lakukan untuk keluarga juga adalah sikap manipulatif.

Pukulan Orang Tua


Beberapa hari yang lalu saya sedang berbincang-bincang dengan beberapa teman wanita saya. Lalu salah satu dari kami mulai membahas topik tentang bagaimana dulu ia di didik oleh keluarganya.

"Dulu nyokap gue yang paling sering banget ngomel-ngomel tapi ga begitu berasa diomelin, bokap gue jarang banget ngomong, sekalinya marahin gue, kata-katanya tajem banget. Jleb banget di hati.", kata Titi. Lalu, mulailah yang lain juga menambahkan. "Sama banget, bokap gue dulu pernah ngomong kalo ga ada Papa lu juga ga hidup, karena gue masih dibiayain bokap gue pas sekolah. Makanya sekarang gue kerja, beli mobil, kuliah semuanya pake uang sendiri.", kata Lita. Aku mulai teringat, masa kecil ku. Saat saya masih berumur 10 tahun ada kata-kata yang paling membekas dibenak saya ketika orang tua saya marah dan pernah mengatakan "Memang mencari uang itu mudah? Cari uang itu susah! Coba kamu sekarang keluar, cari aja uang Rp. 10.000. Bahkan Rp. 1000 aja kamu belum tentu dapet!"

Sejak saat itu, saya selalu berpikir, bagaimana saya tunjukan ke orang tua saya, bahwa saya bisa mencari uang juga, bahkan tanpa orang tua saya memberi uang jajan ke saya. Saat saya sedang mengingat kembali kejadian itu, teman saya melanjutkan lagi ceritanya. "Makanya gue kurang bisa respect sama bokap gue, dia dulu suka mukulin gue dan nyokap gue.", kata Lia.
Lalu Titi pun menambahkan "Gue juga kok dulu suka dipukul sama nyokap gue. Tapi entah kenapa gue ga masukin ke hati sih"

Aku kembali teringat, saat aku berumur 9 tahun hingga remaja, sering sekali aku dipukul oleh orang tua ku. Memang tujuannya untuk mendidik. Setiap mendapat nilai jelek, tidak buat tugas, catatan tidak lengkap pasti akan kena pukulan. Sempat terbayang saat buku harianku dilempar langsung ke kepalaku, karena aku lebih suka menuliskan perasaanku dibanding bercerita langsung ke orang tua karena aku segan. Lalu teman kami yang bungsu mulai berbicara "Gue sih ga pernah dipukul, atau dimarahi seperti kalian", kata Sari.

Kamipun sempat terdiam, mungkin masing - masing dari kami berpikir beruntung sekali dia tidak pernah merasakan pukulan dari orang tua.

Tapi teman saya tiba-tiba mengatakan hal yang membuat saya bersyukur "Tapi gue beruntung sih ngerasain dididik keras seperti itu. Gue jadi anak yang sopan sekarang, tau aturan, dan mungkin gue ga berani merantau ke Jakarta.", kata Titi.

Setelah pikiranku terbuka, saya menyadari pentingnya pukulan orang tua itu. "Gue juga bersyukur, kalo gue ga dididik sekeras itu, gue mungkin lebih susah mengutarakan pendapat gue. Mungkin gue ga akan semandiri ini, bahkan gue ga akan mulai jualan dan sampe seperti sekarang ini." 

Lalu Lia pun bercerita, ia sudah bisa memaafkan dan menghormati Papanya karena terkena sakit stroke dan ia bersyukur kalau dia tidak pernah dimarahi seperti itu, mungkin ia belum bekerja sejak muda dan membiayai kehidupan dan pendidikannya sendiri. 

Kami semua menyadari tidak satupun pukulan dari orang tua yang tidak berguna. Tiap pukulan membentuk karakter kita, bisa menjadi lebih baik, atau lebih buruk. Mejadikan kepribadian kita lebih kuat, atau malah lebih lemah. 

Semua adalah pilihan kita sebagai anak, apa yang kita ambil dari makna pukulan orang tua ini. Jangan lupa menyertakan Tuhan dalam setiap proses kehidupan kita, karena bagaimanapun Dia yang Mahakuasa dapat memberikan kekuatan dalam setiap masalah didalam hidup ini. 

*NB : Nama yang tertera pada post ini adalah nama samaran.